Syekh Ahmed el-Tayeb Telah Menghentikan Pertumpahan Darah Sejak dalam Pemikiran

Syekh Ahmed el-Tayeb Telah Menghentikan Pertumpahan Darah Sejak dalam Pemikiran

Penulis: Zulfah Nur Alimah, Lc
(S2 Sastra Arab, Universitas Al-Azhar Mesir)

Dalam pidatonya di acara konferensi persaudaraan kemanusian di Abu Dhabi tahun lalu, syekh Ahmed el-Tayeb mengatakan bahwa beliau masih ingat bagaimana mengerikannya perang dan penderitaan orang-orang karenanya. Beliau mendengar cerita tentang perang dunia II yang menyisakan kehancuran dan kebinasaan, beliau menyaksikan sendiri bagaimana pesawat tempur musuh menyerang kota Luxor, tempat tinggal beliau, dalam perang Oktober 1956. Keadaan kota menjadi gelap gulita, orang-orang berlari ketakutan ke gua untuk berlindung, dan ketika itu beliau baru berumur sepuluh tahun.

Sepuluh tahun kemudian, perang kembali meletus antara negara-negara Arab (Mesir-Suriah-Yordania) dengan Israel. Dalam perang ini, musuh menang dan berhasil mencaplok Sinai, Gaza, Tepi Barat dan dataran tinggi Golan. Dan sekitar dua puluh ribu tentara Arab tewas. Walaupun pada tahun 1973 pasukan tentara Mesir berhasil mengalahkan Israel dan kembali merebut Sinai, tapi perang tak kunjung usai; gelombang terorisme muncul di tahun 90-an dan darah kembali tertumpah.

Walaupun kelompok terorisme tidak hanya muncul dari kalangan umat Islam, tapi terorisme dan Islam sudah menjadi stereotip di kepala masyarakat dunia pasca penyerangan WTC Amerika 2001. Negara barat masuk ke negara-negara Arab dengan dalih memerangi terorisme dan kelompok teroris Islam pun muncul bermekaran untuk menghadapi kebijakan politik luar negeri yang merugikan negara-negara Arab-Islam. Pada akhirnya, umat Islam sendiri yang paling dirugikan. Secara internal, mereka terpecah oleh ideologi dan semangat fanatisme membela agama yang saling bersebrangan. Dan secara eksternal, mereka dianggap ‘jahat’ oleh dunia.

Berangkat dari sini, Syekh Ahmed el-Tayeb merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki dua hal sekaligus; meluruskan paham ekstrimisme dan radikalisme yang memecah umat, dan menghapus stereotip islamfobia dari benak masyarakat dunia khususnya masyarakat Barat. Sejak tahun 2014, di bawah kepemimpinan beliau, al-Azhar intens mengadakan konferensi internasional yang mengangkat tema ektrimisme, radikalisme, terorisme, moderatisme, kewarganegraan dan toleransi. Syekh Ahmed el-Tayeb sendiri melakukan kunjungan ke sejumlah negara di dunia dengan membawa misi perdamaian.

Berangkat dari misi tersebut, beliau berhasil mengembalikan hubungan antara al-Azhar dengan pihak Vatikan yang telah terputus sejak tahun 2011 ketika Paus Benediktus XVI melancarkan ‘serangan’ kepada Islam terkait peledakan gereja Elkedeseen di kota Alexandria. Syekh Ahmed el-Tayeb dan Paus Fransis saling melakukan tukar kunjungan dan pada bulan Februari tahun lalu, keduanya mengesahkan piagam persaudaraan kemanusiaan yang diadakan di Abu Dhabi.

Melalui kampanye perdamaian tersebut, Syekh Ahmed el-Tayeb berusaha menampilkan watak asali agama samawi yang diturunkan untuk menyebar perdamaian bukan untuk menumpahkan darah. Bukan hanya Islam, agama apa pun tidak ada kaitannya dengan terorisme yang sekarang menjadi ancaman dan tantangan seluruh negara di dunia. Karena pada hakikatnya terorisme tidak memiliki identitas negara maupun agama. Agama hanya dijadikan sebagai kendaraan yang ditunggangi kepentingan politik yang sama sekali tak memberikan kemaslahatan bagi agama itu sendiri dan para pengikutnya.

Menurut beliau, krisis kemanusiaan di zaman sekarang dengan beragam fenomenanya, terjadi karena hilangnya nilai agama di tengah gelombang filsafat materialisme yang menuhankan manusia. Karenanya agama harus dihadirkan kembali, bukan hanya sebagai praktik dan rutinitas badaniah, tapi juga sebagai kesadaran spiritual dan intelektual sehingga agama mampu berpartisipasi dalam menjawab problematika kekinian.
Salah satu usaha yang beliau lakukan adalah dengan menggagas pembaharuan wacana keagamaan (tajdîd khithâb ad-dîn) dalam bentuk kerjasama antara al-Azhar, kementerian wakaf dan pemerintahan. Beliau juga antusias untuk terus memberikan bantuan beasiswa kepada para pelajar asing yang ingin belajar di al-Azhar. Beliau selalau menegaskan bahwa para pelajar inilah yang diharapkan akan menjadi duta al-Azhar di negara masing-masing dalam menyebarkan nilai wasathiyah dan risalah perdamaian.

Sebelum menjabat sebagai Grand Syekh al-Azhar menggantikan syekh Muhammad Sayyid Thanthawi, syekh Ahmed el-Tayeb sudah dikenal sebagai cendikiawan muslim yang memiliki gagasan-gagasan moderat. Beliau salah satu tokoh yang tegas menyatakan bahwa Syiah adalah Islam, bahwa Sunni dan Syiah adalah saudara seagama yang tak seharusnya saling membenci apalagi saling membunuh. Seperti halnya kelompok Sunni, Syiah terpecah menjadi beberapa golongan, ada yang ekstrim dan ada yang moderat.

Walaupun merupakan didikan Eropa, syekh Ahmed el-Tayeb tidak terbutakan oleh kemewahan produk pemikiran Barat. Beliau justru mendamaikan antara turâts dan produk pemikiran Barat tersebut. Dalam at-Turâts wa at-Tajdîd dalam usaha membantah pemikiran Hasan Hanafi, syekh Ahmed el-Tayeb mengatakan bahwa pembaharuan dalam memahami teks agama sesuai konteks kekinian adalah tindakan yang perlu bahkan harus dilakukan. Namun yang menjadi perlu untuk selalu diingat, agama memiliki domain statis yang tidak dapat diganggu gugat.
Sebagai seorang yang pernah mengalami masa perang, Syekh Ahmed el-Tayeb tak ingin generasi anak-cucu beliau mengalami nasib serupa. Beliau telah mengupayakannya sesuai dengan kapasitas beliau sebagai pendidik; beliau mencoba menghentikan pertumpahan darah sejak dalam pemikiran. Semoga Tuhan senantiasa melindungi beliau.

*pernah diterbitkan di Kintaka.co

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *