Akar Kekerasan Seksual terhadap Perempuan Perspektif Al Quran

Akar Kekerasan Seksual terhadap Perempuan Perspektif Al Quran

Penulis: Haryati

Mahasiswi Teologi Islam Madrasah Jamiattuzahra Qom-Iran

Pendahuluan

Kasus kekerasan terhadap perempuan terus meningkat, khususnya kekerasan seksual dan sudah berada pada titik memprihatinkan. Menurut catatan akhir tahun Komnas Perempuan 2020, terdapat 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2019 (naik dari tahun sebelumnya sebanyak 406.178).

Kekerasan perempuan seperti yang dilansir CATAHU Komnas 2020 menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 12 tahun, kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 792% (hampir 800%) artinya kekerasan terhadap perempuan di Indonesia selama 12 tahun meningkat hampir 8 kali lipat. Ini merupakan fenomena gunung es, yang menunjukkan bahwa dalam situasi yang sebenarnya, kondisi perempuan Indonesia senantiasa berada dalam ancaman bahaya. Arti lainnya adalah bila setiap tahun kecenderungan kekerasan terhadap perempuan konsisten mengalami peningkatan, hal tersebut menunjukkan masih minimnya perlindungan dan keamanan terhadap perempuan, bahkan telah terjadi pembiaran. Fenomena ini dapat dikatakan kekerasan terhadap perempuan menjadi budaya yang menguat di kalangan masyarakat kita.

Pelbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan bisa secara fisik ataupun nonfisik seperti main mata, siulan nakal (cat calling), komentar atau stiker yang mengandung unsur seks atau gender, humor porno, cubitan, colekan, tepukan, sentuhan di bagian tubuh perempuan tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual, ajakan berkencan dengan iming-iming atau ancaman, ajakan melakukan hubungan seksual hingga perkosaan. Jadi kekerasan seksual terhadap perempuan merupakan bentuk penganiayaan, penyiksaan atau perlakuan salah terhadap hal-hal yang berdasar pada perbedaan jenis kelamin (gender-based violence) yang mengakibatkan penderitaan fisik, seksual atau psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak. Menurut WHO, definisi kekerasan seksual adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan memar, trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak.

Bukan hanya itu, masih banyak bentuk kekerasan seksual yang dirasakan oleh kaum perempuan yang dianggap biasa oleh masyarakat pada umumnya karna telah menjadi pembiasaan atau dinilai lumrah. Korban kekerasan ini meliputi seluruh kalangan dari balita hingga lansia dari berbagai tingkatan pendidikan dan profesi yang terjadi di segala ruang; di rumah, diangkutan umum, di tempat kerja, sekolah atau bahkan dalam bentuk online (kekerasan berbasis gender online).

Penyebab kekerasan seksual itu sendiri sudah menjadi kompleks dan ketika melihatnya secara runut, sulit menemukan akar penyebabnya karena setiap bentuk kasus kekerasan seksual sudah merambah dimana-mana yang memiliki latar belakang penyebab yang berbeda, ada pengaruh film pornografi, minuman beralkohol, atau adanya kesempatan yang ada dan lain-lain yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada moral atau kesadaran sehingga melahirkan bentuk kekerasan seksual baik itu dalam bentuk pelecehan, pemerkosaan hingga pada tingkat tragis pembunuhan setelah melakukan kekerasan tersebut. Sehingga harus diakui bahwa kekerasan seksual bukan berasal dari satu unsur saja, tapi dia sudah menjadi rangkaian mata rantai yang memiliki keterkaitan dan kesalingsambungan dengan penyebab-penyebab lainnya. 

Perlu kita sadari bahwa manusia diciptakan memiliki kecenderungan dan ketertarikan pada lawan jenis. Ketertarikan tersebutlah yang menimbulkan keinginan pada laki-laki dan perempuan untuk menjalin hubungan intim demi menjaga kelestarian manusia. Hanya saja, kecenderungan ini bisa menjadi berbahaya jika tidak diikat oleh norma dan aturan agama, bahkan menjadi penyebab kekerasan seksual. Dan yang kerap menjadi korban kekerasan seksual adalah perempuan karena sering berada dalam posisi yang lemah. Karena itu agama, dalam hal ini Islam, mengatur agar perempuan bisa terlindungi dengan memberikan langkah-langkah preventif, seperti misalnya menutup aurat dan perintah menjaga pandangan pada laki-laki. 

Dalam tulisan ini kita tidak membahas teori penyebab kekerasan seksual perempuan dari pandangan kaum feminis bahwa kekerasan terhadap kaum perempuan terjadi karena adanya ketimpangan sosial antara laki-laki dan perempuan. Namun kita akan merujuk kepada ayat-ayat al-Quran sebagai hukum mutlak Tuhan untuk mencoba menggali salah satu akar kekerasan seksual terhadap kaum perempuan yang perlu menjadi bahan pertimbangan sosial masyarakat dan pemerintah.

Syariat Islam sebagai Norma Kehidupan Manusia

Islam adalah agama yang diturunkan Sang Pencipta, berisi rangkaian hukum yang berlaku secara universal untuk seluruh umat manusia sebagai pedoman hidup agar manusia tidak tersesat dalam menjalani hidup di dunia dan mencapai tujuan hidup sebagai insan kamil.

Tuhan sebagai pemberi hukum yakni ayat-ayat al-Quran yang diturunkan tentu memiliki tujuan, faedah, manfaat dan hikmah di dalamnya Tuhan tidak menciptakan sesuatu secara sia-sia dan tidak pula membebankan sesuatu kepada umatnya di luar dari kemampuannya. Dengan mengetahui dan meyakini bahwa seluruh perbuatan Tuhan adil, maka apa yang diberikan adalah adil bagi manusia.

Menurut Ayatullah Makarim Shirazi di dalam bukunya Aqidah Islam, kehidupan sosial tentu akan melahirkan kesulitan-kesulitan atau masalah dalam bentuk konflik yang timbul  antara hak-hak dan kepentingan seorang manusia dan sesamanya, yang kadang-kadang menimbulkan tindakan agresif bahkan peperangan. Oleh karena itu, diperlukan produk hukum, perencanaan dan peraturan yang jelas, di mana hukum ini dapat memecahkan permasalahan-permasalahanmanusia dala, kehidupan masyarakat. 

Perintah Menundukkan Pandangan

Islam memerintahkan kepada kaum perempuan untuk menutupi tubuhnya secara sempurna dan menjaganya dari pandangan laki-laki bukan muhrim. Kewajiban itu bisa kita lihat dari beberapa ayat dalam al-Quran. Di antaranya dalam surat an-Nur ayat 31:

“Katakanlah kepada kaum perempuan yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang tampak darinya, dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka… dan jangalah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.”

Dalam ayat sebelumnya, Allah telah memerintahkan kaum laki-laki untuk menundukkan pandangannya, “Katakanlah kepada laki-laki, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. (Qs. An-Nur: 30)

Dalam dua ayat di atas ada dua kata yang yang perlu dijelaskan, yaitu gadhu dan basharGhadh secara bahasa adalah lebih rendah, menahan pandangan, bukan melindungi atau menutup.[5] Sedangkan bashar bentuk tunggal dari abshar, berarti mata dan hakikat abshar itu sendiri adalah penglihatan. Jadi ghadhu al-bashar yaitu menahan pandangan dan tidak terpesona.

Dari penggalan surah An-nur di atas bisa kita memaknai secara tekstual bahwa Tuhan memerintahkan baik laki-laki ataupun perempuan untuk menahan dan menjaga pandangannya agar mereka satu sama lain tidak saling menikmati dan tidak terjadi kerusakan di antara mereka kecuali berada pada ikatan atau hubungan yang sah. Laki-laki tidak bebas memandangi, menikmati kecantikan ataupun tubuh perempuan yang bukan mahramnya, begitupula perempuan diperintahkan sebaliknya. Kemudian dilengkapi pernyataan berikutnya “serta menjaga dan memelihara kemaluannya”,agar baik laki-laki ataupun perempuan tidak serta merta bebas mempertontonkan diri secara bebas di depan khalayak, menampakkan diri dengan busana yang bebas dengan dalih bahwa ini adalah kebebasan individual ataupun kebebasan berekspresi. 

Kata farj digunakan dalam bahasa Arab berkenaan dengan kelamin, baik laki-laki ataupun perempuan. Menjaga dan menutupi kemaluan merupakan bagian perintah ayat di atas supaya tidak terjadi penyimpangan dan kerusakan moral ataupun sosial di tengah-tengah masyarakat yakni perempuan tidak menampakkan bagian-bagian tubuh sensual yang bisa mengundang hasrat seksual atau nafsu birahi lawan jenis begitupun sebaliknya. 

Perintah menutup ini dikhususkan kepada perempuan bukan laki-laki karena perempuan adalah manifestasi dari kecantikan dan laki-laki adalah perwujudan dari daya tarik. Kecenderungan sifat laki-laki yang suka melihat dan menatap dan perempuan memiliki sifat memamerkan.

Will Durrant mengatakan bahwa tidak ada kecenderungan yang lebih kuat dan lebih gigih di dunia ini selain hasrat pria memandang perempuan. Betapapun kita berusaha menekan, hasrat itu akan selalu ada. 

Dalam padangan Islam, bahwa masyarakat harus memiliki kesusilaan publik dan memberi perempuan jaminan sosial individu oleh karena itu laki-laki diberikan kecemburuan hati dan perempuan diberikan kesopanan dan jaminan kesucian sosial seperti yang diwajibkan dalam ayat di atas. 

Perintah ketiga adalah tidak menampakkan perhiasan mereka. Zinat secara hakikat adalah berhias dengan sesuatu yang membuat kecantikannya tampak, baik itu kecantikan dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. Seperti zinat iktisabi, segala sesuatu yang membuat perempuan menjadi cantik dan indah seperti baju, emas, alat make up dan lain-lain. Zinatini juga sering disebut zinat dzahir. Kemudian zinat bawaan adalah  wajah perempuan yang sudah menjadi dasar kecantikan.

Kemudian zinat di sini berkenaan dengan sesuatu yang terpisah dari badan, seperti emas dan permata juga segala sesuatu yang menempel di badan seperti celak dan kutek. Diperintahkan kepada perempuan untuk tidak menampakkan perhiasannya agar mencegah ketertarikan laki-laki dan hasrat seksualnya. 

Kemudian dilanjutkan kecuali yang biasa tampak darinya” seperti cincin dan celak, supaya memberikan keringanan kepada perempuan yang merupakan bagian makhluk sosial ketika keluar rumah bekerja tidak sulit menjalankannya.

Kemudian dilanjutkan dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya” sebelum ayat ini diturunkan, perempuan jazira Arab memiliki kebiasaan mengenakan kerudung namun menyelipkan kain itu di belakang telinga sehingga bagian telinga, leher dan dadanya terlihat. Setelah turunnya ayat ini, Islam memperbaiki cara mengenakan jilbab dengan menutup kepala, leher dan dada kecuali yang telah disebutkan oleh ayat di atas, ayah, saudara, anak-anak dan lain-lain.

Lalu kemudian dilanjutkan dengan dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan” untuk betul-betul menjaga kehormatan dan demi mencegah kerusakan-kerusakan sosial. 

Dengan merujuk surah di atas Islam memberikan syariat wajib yaitu hijab kepada perempuan untuk membersihkan lingkungan sosial dan ini bukan hanya dikhususkan pada perempuan tapi laki-laki pun menerima perintah wajib untuk menahan pandangan serta menjaga kemaluannya.

Surat an-Nur ayat 31 ini dikuatkan dengan surat lainnya seperti surat al-Ahzab ayat 59 hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”  Kata jilbab di sini memiliki arti pakaian yang lebar dan luas. Jadi dari sini bisa dikatakan bahwa diperintahkan kepada perempuan untuk mengenalkan jilbab dan pakaian penutupnya dari kain sehingga dapat menutupi seluruh bagian tubuhya secara sempurna, di antaranya dada dan sekitar leher serta menjaganya dari tatapan lelaki bukan mahram. Dari sini perempuan akan lebih mudah dikenal karena itu mereka tidak diganggu”. Ketika seorang perempuan mengenakan jilbab, ia akan dikenal dengan kesuciannya karena tidak akan mengundang laki-laki asing untuk memperhatikannya dan tidak menyebabkan gangguan.

Hukum syariat yang diturunkan oleh Tuhan kepada perempuan untuk mengenakan jilbab ketika keluar rumah itu memiliki falsafah dari sudut pandang Islam itu sendiri. Dengan perempuan berhijab di tengah-tengah masyarakat akan mengokohkan fondasi kesucian rumah tangga sebuah perkawinan, mencegah penyimpangan seksual dan akibat-akibat buruk lainnya yang bisa muncul, menjamin keselamatan dan keamanan sosial, membantu menjaga kesehatan lingkungan secara susila serta mengurangi kerusakan-kerusakan moral.

Ketika dikatakan bahwa yang terjadi hingga saat ini atau hasil riset lembaga-lembaga penelitian menyebutkan bahwa korban kekerasan seksual tidak melulu berangkat dari perempuan yang mengenakan pakaian terbuka, bahkan korbannya kerapkali juga adalah perempuan berjilbab. Sehingga disimpulkan, kekerasan seksual tidak ada kaitannya dengan jenis dan gaya berpakaian korban. Berangkat dari sini, mereka menilai ajaran Islam yang mengatur pakaian perempuan tidak relevan dan dianggap tidak menjawab masalah merebaknya kekerasan. 

Pandangan tersebut lahir karena hanya melihat dari satu sudut pandang saja, tanpa melihat latar penyebabnya yang sudah saling berkelindan. Adanya korban dari perempuan berjilbab atau bahkan korban kekerasan dari kalangan balita, lansia, bahkan sampai hewan sebagai sasarannya adalah mereka merupakan objek atau sasaran lemah dimana hanya objek-objek tersebut yang bisa dijadikan sasaran pelampiasan dari nafsu pelaku yang sebelumnya telah dipicu oleh berbagai ransangan mulai dari tontonan vulgar yang didapatnya baik dari media cetak maupun elektronik, ataupun yang dilihatnya langsung dari perempuan-perempuan yang berpenampilan terbuka dan merangsang. 

Jadi, sasaran objek kekerasan memang bukan bintang film porno, artis panas, model seksi dan perempuan-perempuan cantik di jalan dari golongan orang kaya ataupun bintang iklan yang dilihatnya di papan-papan reklame, majalah atau di televisi, namun kesemua itu yang menstimulus munculnya keinginan untuk melancarkan aksi kekerasan seksual, yang ketika pelaku sudah berada tingkat impulsive yang sulit mengendalikan diri, siapapun bisa menjadi objek pelampiasan kekerasannya, termasuk perempuan bercadar sekalipun. 

Hal ini dibernarkan ahli bedah syaraf dari Rumah Sakit San Antonio, Amerika Serikat, Donald L. Hilton Jr, MD,Pornografi menimbulkan perubahan konstan pada neorotransmiter dan melemahkan fungsi kontrol. Ini yang membuat orang-orang yang sudah kecanduan tidak bisa lagi mengontrol perilakunya.” Bukan hanya itu penyebab terjadinya kekerasan seksual di masyarakat, bisa juga kita katakan adanya kesempatan dengan melihat korban yang lemah sehingga terjadilah kekerasan. 

Ketika pemerintah atau tatanan masyarakat merealisasikan konsep pakaian yang menutup seluruh tubuh sensual perempuan, dan media juga mendukung dengan tidak menampilkan kaum perempuan sebagai objek eksploitasi dengan menvisualisasikan tubuh perempuan di berbagai iklan, objek humor atau lainnya tentu tidak akan sampai pada tingkat fatal seperti yang terjadi sekarang. Jadi untuk memperbaiki sistem atau memperbaiki kerusakan-kerusakan moral yang memang butuh kerja keras dengan tidak mengadvokasi satu sisi saja, tapi dari segala sisi.

Kemudian ayat selanjutnya yang menjadi hukum kuat dalam pergaulan di tengah masyarakat adalah surah Al-Azhab 32-33 yang berbunyi kamu sekalian perempuan, jika kamu bertakwa, janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit hawa nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” 

Sekarang ayat di atas menyampaikan bahwa perempuan ketika bergaul dengan lawan jenisnya, hendaklah tidak membuat suaranya dilembut-lembutkan dengan nada manja yang bisa membuat atau menstimulus syahwat laki-laki yang tidak baik. Ayat ini menguatkan ayat-ayat sebelumnya, bahwa jangankan tubuh perempuan, kecantikannya atau bahkan sampai langkah kakinya sengaja dibuat untuk memancing ketertarikan, yang itu bisa menimbulkan kerusakan atau menjadi penyebab ketidaksusilaan.

Lalu dilanjutkan “hendaklah kamu tetap dirumahmu]yaitu anjuran atau perintah ini bukan dimaksudkan untuk membatasi ruang gerak perempuan apalagi sampai melarangnya beraktivitas di ruang publik, melainkan untuk memberikan pemahaman bahwa tempat sebaik-baiknya perempuan adalah di rumah. Adanya perintah berjilbab dalam Islam justru untuk menunjukkan bahwa Islam tidak melarang pada aktivitas perempuan di luar rumah. Perempuan diperbolehkan melakukan berbagai kegiatan di luar rumah, dengan syarat tetap memenuhi batasan-batasannya, yang itu juga untuk kenyamanan perempuan itu sendiri. 

Perintah selanjutnya, dan jangan berhias dan bertingkah seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu” adalah aturan yang hendak memahamkan bahwa kecenderungan memamerkan keelokan tubuh dengan menonjolkan perhiasan di ruang publik justru tidak sejalan dengan perkembangan kemajuan manusia. 

Memang benar, perempuan secara naluriah memiliki kecenderungan untuk tampil cantik dan suka memperlihatkan daya tariknya pada laki-laki. Demikian pula telah menjadi bawaan laki-laki untuk menyukai kecantikan perempuan, namun ketika kecenderungan itu mendapatkan pembiaran tanpa ada norma yang mengaturnya maka akan terjadi kerusakan dalam masyarakat.

Kesimpulan

Kekerasan yang terjadi pada kaum perempuan merupakan tindakan kedzaliman dan ketidakadilan terhadap perempuan yang mesti ditindaki sesegera mungkin dengan mengikutsertakan pemerintah, agama, media, pendidikan dan masyarakat agar satu persatu penyebab kekerasan itu diselesaikan dan dibenahi. Karena kita tahu bahwa perempuan merupakan lambang kehidupan dan peradaban manusia. Ketika perempuan masih berada pada titik terdzalimi dan tidak memiliki tempat yang nyaman untuk bernafas, maka peradaban tidak akan pernah kita capai.

Kekerasan seksual ini juga tidak akan terselesaikan jika mengabaikan atau memandang sebelah mata aspek-aspek yang mungkin dianggap kecil oleh mayarakat termasuk pakaian. Karena hukum perintah yang diturunkan Tuhan kepada manusia bukan sesuatu yang sia-sia yang diciptakan begitu saja tanpa ada keadilan di dalamnya. Ketika manusia menginginkan keadilan dan penghapusan kedzaliman di dalam tatanan masyarakat tentu harus mengikuti perintah dan aturan dari sang pemilik keadilan itu. Karena Ketika menyepelehkannya, tentu sulit meraih keadilan ditengah-tengah masyarakat yang sudah berada pada titik terendah.

Secara psikologi pun kita tahu bersama bahwa apa yang kita makan menunjukan siapa diri kita, apalagi apa yang kita tampilkan secara lahir, sikap yang kita tampakkan di depan khalayak supaya dinilai seperti apa. Seorang klien pun akan berpenampilan sempurna di depan mitranya atau calon rekan bisnisnya untuk menunjukkan kualitas dirinya agar memberikan nilai positif, dianggap layak dan bisa dipercaya dalam hubungan atau rekan bisnis yang akan dijalankan. Begitu pula dengan sikap, perilaku dan penampilan kita sebagai manusia. Oleh karenanya Tuhan memberikan hukum atau perintah syariat kepada manusia dengan tujuan yang sangat jelas agar sesama manusia saling memanusiakan. Tuhan memulainya, dengan bagaimana seharusnya kita berpakaian dan bagaimana semestinya kita menjaga pandangan. 

Referensi:

1. Fathiye Fathohi Zadeh, Hijab dalam pandangan Quran dan Sunnah, Penerbit Markaz Tabligh Islam, cet II, hal. 26. 

2. Ibrahim Imani, Bangga jadi Muslimah, Penerbit Al-Huda, cetakan I, 2007, hal. 18.

3. Murtadha Muthahhari, Teologi dan Falsafah Hijab dalam konsep Islam, Penerbit Rausyan Fikr Institute, cet II, 2011, hal. 79. 

4.https://www.jurnalperempuan.org/wacana-feminis/-akar-kekerasan-seksual-terhadap-perempuan  

5.https://www.komnasperempuan.go.id/file/pdf_file/2020/Catatan%20Tahunan%20Kekerasan%20Terhadap%20Perempuan%202020.pdf

6. https://sweetspearls.com/health/efek-negatif-dari-kecanduan-pornografi/  

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *