Adakah Kontribusi Perempuan Alumni Timtengka untuk Indonesia?

Adakah Kontribusi Perempuan Alumni Timtengka untuk Indonesia?

Oleh: Abd Syakir (PPMI Mesir)

Relasi gender dan keilmuan kerap kali dituduhkan dengan menempatkan sosok perempuan sebagai pesaing laki-laki. Belum lagi konstruksi sosial- masyarakat konservasif juga demikian mendakwakan bahwa setinggi apapun perempuan berpendidikan akan membawanya ke kasur, sumur, dan dapur. Stigma negatif ini masih berkembang pesat di masyarakat sehingga banyak perempuan yang insecure dan putus asa dengan diri mereka sendiri.

Diskursus mengenai peran dan kontribusi alumni Timtengka dalam persepektif publik (public perpective) kerap kali hanya melihat hasil dari eksistensi sosok para ulama laki-laki. Nama-nama seperti Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Abdul Somad, Lc, MA, Ph.D, ust. Adi Hidayat Lc, MA, dan ust. Hanan Hatakki Lc umpamanya sudah tidak asing didengar di telinga masyakat kita semua. Namun kemanakah sosok perempuan alumni Timtengka? Apa jangan-jangan karena relasi gender dan keilmuan mereka insecure? Lalu di manakah letak dan peran kontribusi mereka untuk Indonesia? Siapa sosok tokohnya? Apakah benar mereka akhirnya kembali ke kasur, dapur, dan sumur?

Tampa perlu basa-basi saya kira untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar itu memerlukan sebuah aksioma keberanian. Apakah itu? Yah tiada lain adalah keberanian kita untuk menegaskan dan membenarkan bahwa secara aksiomatik banyak sekali peran dan kontribusi perempuan alumni Timtengka untuk Indonesia. Namun hanya saja kebanyakan masyarakat kita belum tahu dan menyadari hal-hal itu.

Jawaban untuk pertanyaan bahwa apakah benar karena relasi gender dan keilmuan mereka insecure? Tentu tidak karena realitanya banyak sekali perempuan atau al-Banaat Timtengka yang lulus dari pada al-Baniin. Di Mesir saja misalnya berdasarkan angka presentasi kelulusan dari Aditbuk Kairo dan PPMI Mesir

menunjukan angka kelulusan perempuan lebih banyak dari pada al-Baniin (Baca Data Kelulusan PPMI Mesir & Aditbuk Kairo 2019).

Sedangkan pada pertanyaan kemana saja mereka kalau begitu? Lalu siapa tokohnya? Sebenarnya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa para alumni perempuan Timtengka itu pada hakikatnya sudah memberikan kontribusi bagi Indonesia. Mungkin jawabanya agak sedikit spekulatif, jika bentuk pertanyaan adalah di mana mereka? Tentu bisa kita jawab mungkin di pesantren, guru, dan penceramah keagamaan dll.

Adapun siapa saja tokohnya yang telah memberikan kontribusi untuk Indonesia? Jawabanya adalah sangat banyak sekali tokoh perempuan alumni Timtengka yang terkemuka. Merekalah sang muslimah-reformis pertiwi yang telah memberikan kontribusi bagi perubahan Indonesia, mereka adalah:

  1. Prof. Dr. HJ. Huzaimah T. Yanggo, MA

Ibu ahli fikih perbandingan madzhab lulusan S3 Universitas Al-Azhar ini sangatlah terkemuka dan dikhalayak akademisi ilmu keagamaan Islam di Indonesia. Beliau juga telah menjadi ketua MUI bagian divisi Perempuan. Hebatnya beliau juga merupakan satu-satunya perempuan dalam anggota penyusunan tim Tafsir Al- Qur’an Tematik Depatermen Agama (Depag) tahun 2006-2012. Tafsir Tematik ini sampai 14 jilid loh, maka tak heran kontribusinya besar dalam membimbing umat Islam khususnya dalam memahami agamanya.

  • Prof. Dr. Amany Burhanuddin Lubis, MA

Kalau kita sering membaca buku, jurnal, surat kabar, dan media berita nasional baik cetak ataupun daring. Sangatlah dipastikan mendengarkan nama “Amany Burhanuddin Lubis” sudah sangat tidak asing sekali. Karir beliau sungguh sangatlah luar biasa dalam memberikan kontribusi terhadap Indonesia juga dunia muslim internasional. Ini bisa kita lihat dari prestasi beliau menjadi rektor pertama dari kaum perempuan di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Syarif Hidayatullah. So…janganlah tanya kiprah dan kontribusi UIN jakarta terhadap

dunia Islam baik secara akademis dan praktis di Indonesia maupun dunia. Dan hebatnya lagi beliau merupakan satu-satunya perempuan asia yang pertama ceramah/khutbah dihadapan Raja Mohamed 5 Maroko.

  • Dr. Yuli Yasin, MA

Nama beliau akhir-akhir ini menjadi popular di masyakat tanah air, apalagi pasca PBNU, Muhammadiyah, dan Mentri keuangan mneyuarakan gerakan besar- besaran terkait wafak uang. Dan Dr. Yuli Yasin, MA sebagai anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI). Kontribusi dan prestasi beliau ini sangatlah penting dalam membangun usaha mikro ekonomi negara Indonesia. Tidak itu saja, beliau juga menjadi host dalam diskusi panel “Islamic Philosophy for Millennials” AICIS Depag 2019 bersama Prof. Abdul Majid Hakemolahi (Icas London) dan Prof. Abdelaziz Abbacy (Al-Musthafa International University in Iran). Menurut saya presentasi hasil penelitian atau paper di ajang AICIS itu merupakan prestasi besar, apalagi jika menjadi host dalam acara bergensi-internasional tersebut.

Saya kira ketiga tokoh tersebut sudah cukup untuk menjawab pertanyaan tadi. Maka dengan ini dapat kita nilai bahwa kontribusi alumni perempuan Timtengka untuk Indonesia itu benar adanya. Di samping itu juga sangatlah memiliki peran yang sangat kuat, besar, dan signifikan dalam membawa perubahan bagi masyarakat Indonesia.

Pertanyaan selanjutnya adalah di mana letak dan kontribusi mereka? Dari ketiga tokoh sebelumnya saya kira sudah jelas bahwa setidaknya ada beberapa sektor yang urgen, yaitu; 1. Sosial-Keagamaan, 2. Pendidikan, dan 3. Ekonomi. Ketiga sektor ini dalam pandangan saya sangatlah memiliki dampak yang serius untuk perubahan bangsa Indonesia kera yang lebih maju lagi di era revolusi industry

4.0 dan human society 5.0. Dan untuk menjawab pertanyaan terakhir bahwa apakah benar mereka akhirnya kembali ke kasur, dapur, dan sumur? Pertanyaan ini memang sedikit mendiskriminasikan perempuan. Namun kita mesti menjawab dengan fakta dan data bahwa itu semua tidaklah benar sebagaimana pembahasan kita sebelumnya.

Sebagai penutup, saya ingin tegaskan bahwa kontribusi perempuan alumni Timtengka itu tidak bisa dilihat dengan sebelah mata. Dari sini jiuga telah membuktikan bahwa tidak ada hubungan relasi gender dan keilmuan bagi perempuan alumni Timtengka sebagai penghambat dalam kontribusi. Sejatinya masih banyak sektor-sektor kontribusi mereka untuk Indonesia yang belum disebutkan. Oleh karena itu, saya berharap semoga saja ada penelitian yang menjawab persoalan kontribusi perempuan alumni Timtengka secara komprehensif. Tiada lain hal itu untuk menunjukan bahwa mereka perlu untuk dihargai, dihormati, dan dijadikan suri tauladan sehingga menjadi inspirasi bagi para muslimah di Indonesia agar mau ikut berkontribusi membangun negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).Wassalamu alaikum wr. w

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *