Saat Ramadan, Kelas dan Ujian Malam Hari di Arab Saudi

Apa yang anda bayangkan ketika mendengar Kerajaan Arab Saudi (selanjutnya disebut KAS)? Ya. Ibadah haji, umroh, ziarah Nabi SAW, tempat menimba ilmu, TKI (Tenaga Kerja Indonesia), dan panas adalah ingatan yang mungkin muncul terkait KAS.

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi cerita tentang serba-serbi Ramadan di KAS, khususnya di Provinsi Timur yang berbatasan dengan Bahrain. Pada bulan Ramadan, cuaca panas di negeri ini mulai meninggi hingga sekitar 40 derajat Celsius. Itulah kenapa bulan puasa umat Islam dinamakan Ramadan (Arab: ramidla atau al-ramadl yang berarti panas yang menghanguskan atau kekeringan).

Di Provinsi Timur, kawasan perindustrian dan perminyakan, terdapat beberapa Universitas dan perusahaan yang mewadahi para pelajar, mahasiswa dan ekspatriat dari Indonesia. Sebagian besar mahasiswa dan tenaga pengajar tinggal di asrama yang terletak di lingkungan kampus. Sebagian lainnya bermukim di apartemen-apartemen luar kampus.

Sebelum menginjakkan kaki di padang pasir, saya berangan-angan akan menikmati indahnya Ramadan bersama keluarga di kampung halaman setiap tahun. Sebab, Qanun (regulasi) kerajaan menetapkan bulan Ramadan sebagai bulan libur akademik (summer vacation) sampai pertengahan Muharram. Tentunya, setelah para mahasiswa menyelesaikan UAS di bulan Sya’ban. Lalu, siapa yang tak senang bila tiap tahun diberikan tiket liburan gratis dari kampus?

Namun apalah daya, takdir berkata beda. Sudah dua kali bulan puasa dan dua kali lebaran, bersama teman-teman lainnya, saya tinggal di asrama. Alasannya, kalender hijriah bergeser maju, sehingga liburan musim panas mundur.

Terlepas dari hal itu, kami justru bersyukur pada Tuhan Yang Maha Pemurah, karena diberikan kesempatan untuk menikmati suasana Ramadan di negeri orang, meskipun dalam kondisi new normal. Atas anugerah nikmat-Nya, Ramadan tahun ini kami bisa kembali ke masjid untuk melaksanakan ibadah. Tahun sebelumnya, lockdown diberlakukan serentak di wilayah KAS. Masjid-masjid ditutup. Tidak ada ifthar jama’i (buka puasa bersama) di masjid. Keluar asrama atau apartemen pun hanya diizinkan selama satu jam perhari setelah mengantongi izin (permit) melalui aplikasi Tawakkalna. Saat waktu sholat tiba, para muadzin saling menyahut berseru “shallû fî buyûtikum…” (salatlah kalian di rumah masing-masing), bukan lagi “hayya ‘alassh shalâh”.

Hal-Hal Unik

Pada bulan-bulan biasanya, mahasiswa sarjana mengikuti kelas pada siang hari. Namun, di bulan Ramadan, jadwal kelas bergeser ke malam hari, setelah sholat Tarawih. Lalu, bagaimana dengan kami mahasiswa pascasarjana dengan kelas sore? Tentu saja, jadwal kelas bergeser lebih malam. Kelas kami dimulai pada pukul 21.00 hingga pukul 01.30 Waktu Arab Saudi (WAS) dini hari. Sungguh, suatu hal unik yang belum pernah saya rasakan sebelumnya untuk mengikuti kelas di jam yang larut malam. Semoga kami tetap diberikan kekuatan dan kemudahan untuk menyerap ilmu yang dikuliahkan.

Jam biologis ini semakin tidak teratur. Malam hari tidak lagi dapat tidur. Apalagi, Subuh tiba pukul 4 WAS kurang dan semakin maju setiap harinya. Kalau selepas kelas kami tidur, mungkinkah kami dapat bangun untuk sahur? Akhirnya, mata kami paksakan untuk tidak terpejam dan kami katakan “goodbye” pada kasur di atas ranjang hingga fajar menerjang.

Berdasarkan kalender akademik 202 (tahun 2020/2021 semester 2), jadwal UAS tahun ini akan dilangsungkan setelah libur Idul Fitri (mulai 6 Syawal). Namun, pada Sya’ban kemarin Kerajaan menginstruksikan revisi. Jadwal UAS kemudian akan dilangsungkan pada bulan ini. Kuliah dipadatkan dan para civitas akademik dapat menikmati summer vacation mulai 25 Ramadan nanti. Sungguh, pengalaman yang luar biasa. Instruksi raja, sekali mengaba, bawahan harus berkata “iya”.

Kalau dipikir-pikir, hal ini ada baiknya juga. Siang hari, kami dapat beristirahat saat matahari sedang terik-teriknya. Kalau ditambah dengan kelas atau UAS di siang hari, usus mungkin akan meronta-ronta dan terdengar suara musik dari dalam perut akibat kerasnya berpikir, padahal kami sedang berpuasa.

Di antara hal unik lainnya, adzan salat Isya dikumandangkan pukul 8 malam WAS atau diundur 30 menit dari jadwal waktu salatnya. Kenapa? Karena dilakukan pembersihan tempat sholat di Haramain (Makkah dan Madinah) setelah dijadikan tempat makannya Jama’ah. Akan tetapi, di masa pandemi yang angka kasus positifnya masih tidak menentu ini, pelaksanaan sholat Isya dan Tarawih dipercepat, bahkan “30 menit” saja, setelah The Custodian of the Two Holy Mosques menghimbau kepada para imam di Masjid Al-Haram.       

Pengalaman Menarik

Sebagai mahasiswa yang tinggal di asrama, siapa yang tidak senang bila mendapatkan menu buka puasa? Alhamdulillah, selain dari kafetaria kampus tercinta, makanan untuk berbuka puasa terkadang datang sebagai rezeki yang tidak diduga-duga. Ada kiriman dari komunitas dosen Indonesia. Ada juga dari Islamic Cultural Center (ICC) Dammam yang mengirim hingga asrama setiap pekannya dengan menu masakan khas Indonesia. Dengannya, kami bisa berbuka bersama di asrama dan meminimalisir risiko kanker (kantong kering) yang cukup berbahaya. Di momen-momen semacam inilah, semarak Ramadan di negeri orang semakin terasa kehangatannya.

Kalau tahun sebelumnya tidak ada PPT (Para Pencari Takjil), di Ramadan era new normal ini hampir setiap masjid di lingkungan kampus menyediakan menu takjil walaupun berupa kurma dan air mineral saja. Setiap pekan sekali, takmir masjid kampus membagikan menu makanan berat kepada jemaah untuk dibawa pulang (takeaway) berupa nasi KabsaDajaj (nasi kuning khas Arab Saudi dengan ayam goreng). Pengurus masjid pun telah menyediakan air mineral untuk di dua shaf pertama pada saat salat Isya dan Tarawih sebagai bentuk apresiasi para jemaah yang datang pada awal waktu, namun bagi yang berada di shaf ketiga dan seterusnya, mereka dapat mengambil air mineral pula bila masih tersedia. Terlepas dari larangan pemerintah, masjid-masjid di lingkungan kampus masih dapat digunakan untuk iktikaf. Berbeda halnya dengan mayoritas masjid di luar kampus kami.

Foto: Salat Tarawih di Masjid Jami’ Dhahran KFUPM

Epilog

Barangkali suasana Ramadan tak akan pernah kembali seperti dulu. Namun, semoga nilai-nilai ibadah dan muamalah yang kita perbarui di Ramadan bisa menjadi prinsip kenormalan baru di hari mendatang. Terus semangat, Teman-teman. Semoga sukses. Tabik!

Penulis: Ahmad Said (Mahasiswa KFUPM)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *