Bulan Ramadan Sebagai Tolak Ukur Perbedaan Masa

Bulan Ramadan adalah waktunya bagi seorang Muslim untuk melaksanakan kewajiban utama yang hanya diwajibkan pada saat bulan Ramadan, yaitu puasa. Pelaksanaan ibadah puasa tentu berbeda dari tahun ke tahun, contohnya saja Ramadan tahun lalu 1441 H menjadi tolak ukur besar berbedanya suasana Ramadan yang kita hadapi bersama dari tahun-tahun sebelumnya.

Puasa yang dibarengi dengan awal masa pandemi Covid-19 yang baru merebak ke seluruh penjuru dunia, masjid – masjid ditutup untuk pelaksanaan ibadah, jalanan dan fasilitas umum ditutup untuk menekan serta mengurangi dampak penyebaran virus yang kian meluas. Dari mulai akhir tahun 2019 hingga saat ini manusia tua hingga muda dipaksa untuk bisa beradaptasi dan berinovasi pada zaman revolusi industri 4.0 yang serba teknologi.

Bukan tentang Revolusi Industri yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini, melainkan perbedaan masa Ramadan yang berbeda dari tiap masa ke masa. Jika ditarik ulur dari awal terciptanya manusia kita sepakat dan mengetahui bahwa Nabi Adam Alaihissalam adalah manusia yang pertama kali diciptakan. Beliau diciptakan dari tanah kemudian dihembuskan kepadanya ruh sehingga diberi tanggung jawab menjadi manusia secara utuh, dan menjadi khalifah pertama di dunia ini dengan tidak menafikkan perbedaan pendapat dikalangan sejarawan tentang adanya manusia purba.

Sangat menarik untuk bisa dibahas panjang mengenai fase perubahan manusia purba menjadi manusia modern, Adapun contoh lain seperti fase terbentuknya alam semesta selama 6 masa. Tentunya hal ini memunculkan hikmah bahwa “Semua ciptaan Tuhan akan melalui berbagai macam proses dan masa hingga menjadi bentuk terbaiknya”.

Peristiwa seperti awal mula diturunkannya Al-Qur’an, hingga di saat bulan Ramadan juga terjadi sebuah peperangan yang peristiwa itu juga mendukung pernyataan saya bahwa “Ramadan Sebagai Tolak Ukur Perbedaan Masa. Bagaimana tidak? Peperangan Badar Kubro adalah suatu peperangan yang sangat menentukan keberlangsungan agama Islam sampai saat ini, umat Islam pada saat ini sangat ditentukan oleh peperangan antara Muslim kala itu dengan kafir Quraisy (17 Ramadan 2 H), kemudian peristiwa Fathu Makkah (10 Ramadan 8 H), pembebasan Andalusia (Spanyol) (28 Ramadan 92 H) kemudian diabad-abad setelahnya terjadi juga peristiwa seperti pertempuran Ain Jalut antara tentara Islam yang mengalahkan tentara Mongol (15 Ramadan 658 H) dan peristiwa-peristiwa lainnya yang bisa kita gali bersama secara detailnya.

Begitu juga Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 yang bertepatan pada tanggal 9 Ramadan 1364 H. Hal ini juga sangat mendukung bahwasannya peristiwa sejarah banyak yang menorehkan tintanya pada saat bulan Ramadhan.

Jika kita renungkan kembali makna dibalik peristiwa-peristiwa tersebut maka kita akan menemukan banyak makna besar dari sebuah perjuangan yang dilakukan umat Islam pada saat itu maupun sekarang, itu semua merupakan momen terpenting dalam sejarah keberlangsungan eksistensi umat Islam di seluruh dunia.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kamu berpuasa, karena pada saat itu dibuka pintu- pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu syaitan- syaitan, serta akan dijumpai pada bulan itu suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh tiadalah dia akan mendapatkan itu untuk selama-lamanya.” (HR Ahmad, An-Nasa’l, dan Baihaqi).

Wallahu A’lam

Penulis : Hamzah Assuudy Lubis

Editor : Muhammad Rijal

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *